Halaman

Jumat, 06 April 2012

Iko Uwais

Iko Uwais, nama ini mungkin sudah tidak asing lagi. Soalnya beberapa minggu belakangan, setelah kesuksesan film The Raid, sukses pula melambungkan nama Iko Uwais ini.
Banyak juga yang terkesima dengan ketampanan dan keahlian pencak silat dari bang Iko.
 Nama asli Iko Uwais itu adalah Uwais Qorny. Lahir di Jakarta, 12 Februari 1983.
Bang Iko ini asli orang Betawi, jelas aja jago pencak silat.
Dia belajar pencak silat sejak usia 10 tahun di sekolah silat pamannya yaitu Tiga Berantai.
PRESTASI
Pada tahun 2003, Iko memenangkan tempat ketiga di Turnamen Silat Provinsi Jakarta.
 Pada tahun 2005, ia memenangkan tempat pertama,
 di Kejuaraan Silat Nasional sebagai pesilat terbaik dalam kategori demonstrasi.
Di ajang Pencak Silat, Iko pernah mengukir prestasi sebagai Juara III,
Kejuaraan Daerah Antar Perguruan DKI Jakarta tahun 2003,
dan sebagai Penampilan Terbaik Kategori Dewasa Tunggal ,
pada Festival Pencak Silat Cibubur 2005
Selain Silat, ketertarikan utamanya adalah sepak bola.
Iko sempat menjadi gelandang dalam Liga-B klub sepakbola Indonesia,
namun menghentikan impiannya menjadi bintang sepak bola setelah klub yang menaunginya bangkrut.
Keterampilan Silatnya telah memberinya kesempatan untuk bepergian ke luar negeri dalam beberapa pameran Silat di Inggris, Rusia, Laos, Kamboja dan Perancis.
AWAL KARIER SEBAGAI AKTOR
Pada tahun 2007, bakat Silat Iko ditemukan oleh sutradara film Wales,
Gareth Evans yang sedang melaksanakan
 proses syuting untuk sebuah film dokumenter tentang Silat di sekolah Silat Iko.
Karisma alami Iko dan kehadiran alaminya yang besar di depan kamera
mendorong Evans untuk menjadikan dia sebagai peran utama
untuk film seni bela diri pertamanya , Merantau.
 Setelah menandatangani kontrak lima tahun
dengan Gareth Evans dan perusahaan produksinya,
 Iko mengundurkan diri dari pekerjaan kesehariannya
sebagai sopir truk sebuah perusahaan telkom.
 (Gileeee supir truk kaya begini gantengnya)

 REFERENSI


Kisah Sukses The Raid



















Film yang dalam bahasa Indonesia berarti “Serbuan Maut” ini,
merupakan salah 
satu film Indonesia yang bisa dibilang sudah go internasional,
 disutradarai oleh   Gareth Evans ini berhasil memenangkan penghargaan bergengsi dari ajang Festival Film International Toronto (TIFF) pada tahun 2011. 
Selain itu memenangkan The Cadillac People’s Choice Midnight Madness Award. 
Award ini merupakan penghargaan pilihan penonton selama acara 
Midnight Madness TIFF 2011 yang digelar 8-18 September 2011, di Toronto, 
Kanada dan pada Festival Film Sundance di Amerika Serikat.
Sony Pictures Worldwide Acquisition
 telah mendapatkan hak pendistribusian film ini untuk
 negara Amerika Serikat dan telah meminta Mike Shinoda (anggota Linkin Park)
 untuk menciptakan musik latar baru pada film ini.
Hak pendistribusian untuk negara-negara lainnya juga telah dijual, t
ermasuk Kanada (Alliance), Inggris (Momentum), Australia (Madman), Perancis (SND),
Jepang (Kadokawa), Jerman (Koch), Cina (HGC), dan Turki (Calinos).
 Kesepakatan juga telah dibuat dengan para distributor dari
Russia, Skandinavia, Benelux, Islandia, Italia, Amerika Latin, Korea Selatan,
 dan India ketika film ini sedang dipertunjukkan pada
Festival Film Internasional Toronto (TIFF).
Sinopsis
Di jantung daerah kumuh Jakarta berdiri sebuah gedung apartemen tua
 yang menjadi markas persembunyian para pembunuh 
dan bandit kelas dunia yang paling berbahaya.
Sampai saat ini, blok apartemen kumuh tersebut telah dianggap tidak tersentuh,
bahkan untuk perwira polisi yang paling berani sekalipun.
 Diam-diam di bawah kegelapan dan keheningan fajar,
sebuah tim elit SWAT berjumlah 20 orang ditugaskan
 untuk menyerbu apartemen persembunyian tersebut 
untuk menyergap gembong narkotik terkenal yang menguasai gedung tersebut.
Tapi ketika sebuah pertemuan dengan seorang pengintai membuka rencana mereka
dan berita tentang serangan mereka mencapai sang gembong narkotik,
lampu dalam gedung tiba-tiba padam dan semua pintu keluar diblokir.
 Terdampar di lantai enam dan tanpa jalan keluar,
 satuan khusus tersebut harus berjuang melawan penjahat-penjahat terburuk
dan terkejam untuk bertahan hidup dalam misi penyerbuan tersebut.
Iko Uwais sebagai Rama
Donny Alamsyah sebagai Andi
Yayan Ruhian sebagai Mad Dog
Ray Sahetapy sebagai Tama
Joe Taslim sebagai Jaka
Verdi Solaiman sebagai Budi
Ananda George sebagai Ari

INI DIA SALAH SATU PIC DARI SANG TOKOH UTAMA IKO UWAIS






Berikut ini adalah wawancara dari cinema21.net dengan Iko Uwais
Kabarnya proses syuting film ini lebih berat daripada Merantau, bisa Anda ceritakan?
“Ya, soalnya di sini gerakannya lebih agresif daripada Merantau, 
meskipun ada dramanya tapi lebih banyak adegan fighting-nya.
 Saya sampai turun berat badan tiga kilo. 
Selain itu di sini saya juga yang menjadi koreografer adegan bersama Yayan dan Gareth. 
Saya harus mencari gerakan yang berbeda dengan Merantau
makanya jadi lebih sulit.
 Gerakannya lebih kompleks dengan mengkombinasikan beberapa adegan silat, 
tapi nggak identik dengan adegan salah satu silat tertentu. 
Koreografinya sendiri telah saya siapkan tiga bulan sebelum syuting.”

Tapi bukankah Anda di sini berperan sebagai pasukan khusus yang artinya akan mengenakan seragam khusus. Apakah tidak menganggu pergerakan koreografi Anda?
“Ini bedanya dengan Merantau yang cuma pakai kemeja, celana, udah, selesai. Tapi di sini kita pakai pakaian pasukan khusus, kaya pakai rompi, sepatu lapangan, decker di sikut dan lutut, senjata, helm, sarung tangan, jadi lebih ribet sih, gerakannya nggak leluasa. Tapi setelah adaptasi selama syuting akhirnya kita terbiasa.”

Apakah sempat mengalami cedera?
“Pas pertama kali shoot tangan saya memar kena pukul, sampai sekarang nggak hilang. 
Jadi waktu itu ada adegan dibacok, tapi goloknya terbuat dari kayu, 
saya tangkis pakai tangan tapi salah sasaran. Masalahnya sampai 15 kali take.”

Berarti benar lebih melelahkan?
“Capai sih pasti tapi alhamdulillah kita punya tim yang solid. 
Di sini kita bareng-bareng jadi nggak ada masalah.
 Lagi pula kalo badan capai biasanya saya cukup siapin madu di tas, nggak ada vitamin apa2, madu aja. Setiap hari minum madu, satu sendok makan. 
Pernah pas pulang syuting badan ngedrop banget, pegal-pegal, mual, pusing,  
saya minumin madu, pas bangun pagi itu hilang semuanya, badan langsung segar. Memang mukjizat Allah juga sih.”

Di sini juga dibintangi oleh  senior seperti Pierre Gruno dan Ray Sahetapy, bisa ceritakan pengalaman Anda? 
“Terus terang memang ngga ada satu scene dengan mereka,
 tapi saya melihat ketika mereka berakting.
 Kaya pas om Ray take, saya liat ekspresi mukanya dalem banget.
 Dia bisa langsung berubah bukan jadi om Ray lagi. 
Dia bisa langsung berubah menjadi karakter yang diperankannya. 
Om Pierre juga sama, dia fokus banget sama peran 
yang dimainkan dan professional dengan pekerjaannya.”

Apakah ada satu masukan dari mereka?
“Dari om Pierre dan om Ray dia lebih kasih masukan
 bagaimana cara memerankan karakter yg kita mainkan. 
Seperti saat kita baca naskah dan berdialog, 
katanya kita tak hanya ngapalin dialog
 tapi kita harus mengerti engan dialog itu dan peran kita sebagai siapa disitu.”

Kembali di arahkan oleh Gareth, apa yang berbeda sekarang?
“Untuk kedua kalinya dengan Gareth, 
saya jadi udah tau apa yang diharapkan oleh Gareth. 
Misalkan dia mau adegan atau koreografi yang seperti apa, 
jadi disini saya dengan Gareth udah saling memahami. 
Chemistry nya udah dapet. Sekarang juga jadi lebih enjoy dan percaya diri.”

Apakah sampai saat ini, film sudah Anda jadikan sebagai profesi?
“Iya, nggak munafik. 
Siapa pun orang mau punya kerjaan yang lebih baik. 
Sebelumnya kan saya cuma driver, pas dapet ini Alhamdulillah, 
melangkahnya jauh banget, yang ada sekarang mensyukuri. 
Jadi ini sudah jadi profesi.”

Pertanyaan terakhir, tidak dapat dipungkiri berarti silat lah salah satunya yang membawa Anda ke posisi sekarang. Apakah punya cita-cita melestarikan silat itu sendiri dengan mempersembahkan sesuatu?
“Cita-cita mau bikin salah satu pendopo untuk khusus silat. 
Insya Allah secepetnya. Apalagi saya baru kehilangan guru silat saya. 
Jadi mudah-mudahan bisa terwujud secepatnya.”

referensi:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar